Di tengah gulita malam yang menyelimuti hutan, Rira tidak pernah menyangka akan berhadapan langsung dengan Kael dan yang lainnya saat menjalankan misinya. Mata tajamnya menatap mereka satu per satu, dingin dan penuh niat untuk menghabisi semua. Ia ingin memastikan tidak ada saksi yang tersisa, terutama mereka yang mungkin mengetahui keterlibatannya dalam kematian tetua dari Sekte Api Langit. Rahasia keberadaannya harus tetap tersembunyi, dan pembunuhan itu tak boleh menggagalkan rencana besar yang telah lama disusun.

Namun, sebuah suara tiba-tiba bergema di dalam benaknya. Suara itu lembut, tetapi tegas, memerintahnya untuk tidak membunuh mereka. Ia mengenali suara itu, suara yang tak mungkin ia tolak. Suara sang Nyonya Agung.

Rira terdiam sejenak. Wajahnya yang semula penuh kebencian perlahan berubah. Ekspresi dinginnya melunak, meski sorot matanya masih kosong dan tak memancarkan kehangatan apa pun. Dalam dirinya, jiwa yang dikendalikan oleh sihir Mira tetap kuat mencengkeram. Ia tidak merasakan ikatan, tidak ada cinta, tidak ada masa lalu yang berarti. Semua hanyalah bayangan yang tak penting. Meski jiwanya dalam pengaruh sihir, namun ingatan tentang masu lalu tetap dipertahankan oleh Mira. Ia masih mengingat nama-nama itu, wajah-wajah yang pernah bersamanya, suara tawa mereka, percakapan yang dulu terasa akrab.

Sekarang, satu-satunya hal yang penting baginya adalah menjalankan kehendak Mira. Jika Nyonya Agung menginginkan mereka hidup dan dibawa bersamanya, maka itulah yang akan ia lakukan. Tanpa ragu, tanpa ampun, tanpa tanya.

Arkha melangkah cepat ke arah Rira. Tatapannya penuh cahaya, terpancar dari sorot mata yang membelalak lega. Nafasnya memburu, dadanya naik turun seiring langkah tergesa yang diiringi degup jantung yang semakin liar.

"Kau..." suara Arkha tercekat, lalu bergetar pelan, "Kau nggak apa-apa? Ke mana saja selama ini? Kami mencarimu ke mana-mana!" Suaranya nyaris meledak oleh rasa lega dan kerinduan yang tak terbendung.

Rira menatap Arkha tanpa kata. Wajah lelaki itu sejenak membangkitkan serpihan kenangan. Ia tahu, Arkha menyukainya namun berusaha menyembunyikannya. Para wanita banyak yang mendorongnya untuk menerima karena mereka bahagia melihat Arkha bisa melupakan calon istrinya yang sudah tewas terbunuh para perampok. Namun ia berpura-pura tak menyadarinya. Hatinya saat itu sudah diisi oleh orang lain.

"Aku berusaha mencari kalian," ucap Rira akhirnya dengan suara rendah, bergetar namun terkendali. "Saat aku mendengar kabar tentang seseorang... yang ciri-cirinya seperti kepala suku. Katanya dia berada di kerajaan ini. Jadi aku datang untuk memastikan kebenarannya."

"Syukurlah kita bisa bertemu di sini," Arkha mengangguk pelan, suaranya melembut. "Kami juga sudah lama mencarimu. Tapi... maksudmu apa dengan kerajaan ini? Apakah kamu tidak tinggal di Kerajaan Qingyuan?"

Rira menggeleng pelan, matanya menunduk. "Aku kabur dari kerajaan ini," katanya lirih. "Tapi setelah mendengar kabar bahwa kalian ada di sini, aku kembali. Secara diam-diam."

"Kabur?" suara Arkha, Kael, dan Narendra serempak terdengar, nyaris bersamaan. Raut wajah mereka dipenuhi keterkejutan.

Rira menarik napas panjang, seolah mencoba menata pikirannya sebelum melanjutkan. "Ini cerita yang panjang," katanya pelan. "Nanti akan kuceritakan setelah kita bertemu dengan kepala suku, karena ada yang lebih penting sekarang.  Aku harus menyampaikan kabar soal suku Surya. Ada hal besar yang harus kepala suku tahu."

Kael segera menatapnya tajam, tubuhnya sedikit mencondong ke depan. "Suku Surya?" tanyanya cepat. "Kamu tahu di mana mereka sekarang?"

Rira mengangguk mantap, sorot matanya serius dan penuh keyakinan. "Kepala Suku harus segera menyelamatkan suku Surya sebelum semuanya terlambat. Kepala suku bersama kalian, bukan? Di mana dia sekarang?" tanyanya sambil berpura-pura menengok ke sekeliling, seolah-olah sedang mencarinya.

Padahal, dari Mira, dia sudah tahu bahwa Lynx telah pergi ke dunia lain. Tapi dia memainkan perannya dengan hati-hati.

"Lynx dan Leena sedang menyelamatkan Lala," jawab Kael dengan nada tegas. Tatapannya tajam dan penuh kecemasan. "Kalau sesuatu terjadi pada mereka, kita harus segera bertindak. Kita tidak bisa memanggil Lynx sebelum tahu pasti keadaannya. Dia pasti sedang menghadapi masalah berat di sana."

Arkha dan Narendra mengangguk perlahan. Wajah mereka menegang, menunjukkan bahwa mereka juga menyadari beratnya situasi. Mereka lalu menatap Rira, menunggu responnya.

Rira menghela napas pendek lalu tersenyum tipis, semangat mulai menyala di matanya. "Kalau memang kepala suku tidak bisa kita hubungi sekarang, maka kita berempat saja sudah cukup. Kita harus bertindak. Kita tidak bisa menunggu lebih lama."

Namun sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, Kael melirik Rira dengan sorot mata yang tajam, hampir seperti menusuk.

"Rira," ucapnya pelan, tetapi nadanya penuh curiga, "Kau... berubah. Banyak hal tentangmu yang terasa berbeda sekarang. Bahkan... aku tidak bisa merasakan ranahmu. Tapi aku melihatmu melukai Grandmaster Langit. Bagaimana bisa?"

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Tatapan Arkha dan Narendra beralih ke Rira, menunggu penjelasan darinya dengan campuran rasa penasaran dan kekhawatiran.

"Aku hanya... beruntung," jawab Rira pelan, nyaris seperti bisikan. Wajahnya tertunduk, menyembunyikan ketegangan yang merayap di balik sorot matanya. "Perempuan itu sudah terluka saat aku menemukannya. Aku bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya."

Arkha menatapnya, kerutan halus muncul di dahinya. Nada suaranya terdengar cemas, namun tetap berusaha tenang. "Kalau begitu... kenapa dia menyerangmu? Apa yang membuatnya mengira kau musuhnya?"

Ia mencoba mengendalikan gejolak perasaannya. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini telah lama mengisi hatinya, dan sekarang, setelah sekian lama, ia tidak ingin kehilangan Rira seperti kehilangan Alana.

Sekilas, bayangan wajah Alana melintas di benaknya. Wanita yang sudah dijodohkan dengannya. Dalam hatinya, ia selalu menganggap Alana sebagai seorang adik, mereka besar bersama. Ia menyayanginya, tapi bukan sebagai pasangan hidup. Hatinya sendiri sudah lama terikat pada Rira. Namun karena ambisi licik Banu yang mengincar Alana demi menikahinya, Alana akhirnya memohon pada Arkha agar dia bersedia menikahinya. Arkha, demi melindungi Alana dari penderitaan, menerima perjodohan itu. Pernikahan pun direncanakan. Tapi semuanya buyar saat suku Raksa pecah. Alana menghilang bersama keluarganya, tanpa jejak.

"Aku juga tidak tahu pasti," Rira akhirnya menjawab dengan suara lirih. Tatapannya kosong sejenak, lalu kembali fokus. "Dia mendadak menyerangku. Dia bilang aku bagian dari kelompok yang memburunya. Mungkin dia terlalu panik, atau pikirannya sudah tak jernih. Untung aku sempat mengaktifkan jimat pertahanan. Itu satu-satunya alasan aku bisa bertahan. Tapi... sepertinya dia meninggal karena pil yang dia konsumsi sendiri, bukan karena seranganku."

Ia menjelaskan dengan sangat hati-hati, memilih kata demi kata dengan presisi. Ia tahu Kael sedang mengamatinya dengan tajam, dan sedikit saja kesalahan, kebohongannya akan terungkap.

Arkha menghela napas panjang, lalu menatap langit yang semakin kelam. "Kalau begitu, kita harus segera pergi dari sini. Perempuan itu bilang dia sedang diburu. Dan kalau kelompok itu cukup kuat untuk membuatnya terluka separah itu, kita dalam bahaya kalau tetap tinggal."

"Benar," Kael mengangguk pelan. "Lebih baik kita bergerak sekarang sebelum jejak kita terlacak."

"Tapi tunggu sebentar. Aku harus mengambil sesuatu dulu. Siapa tahu bisa berguna nanti." Rira berkata cepat lalu berbalik pergi. Ia menuju lokasi tempat Xie Lian tewas, pura-pura mengambil barang-barang yang tertinggal. Padahal diam-diam, ia menyamarkan keberadaan kunci dimensi yang sudah ia ambil dan sembunyikan sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, Rira kembali. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya tampak mantap.

"Kita bisa berangkat sekarang," ucapnya singkat.

"Ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Narendra sambil menatap ketiga rekannya satu per satu, mencoba membaca arah pikiran mereka dari sorot mata masing-masing.

Rira melanjutkan kepura-puraannya. Dengan wajah yang tampak penuh pertimbangan, Rira menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya bertanya lagi, suaranya lembut namun terdengar seolah penuh kepedulian.

"Apakah kita benar-benar yakin tidak menunggu kepala suku terlebih dahulu? Aku... hanya memiliki satu jimat teleportasi yang diberikan oleh seseorang yang menyelamatkanku dan untuk berjaga-jaga untukku melarikan diri," ucapnya sambil menunduk, seolah sedang menyimpan kekhawatiran.

Di saat bersamaan, tanpa terlihat oleh ketiganya, tangannya menggenggam erat sebuah batu kristal kecil berwarna hitam. Ia memecahnya diam-diam di balik lipatan jubahnya. Kristal itu hancur menjadi abu halus yang nyaris tak terlihat, lalu tersebar di udara, menebarkan sihir ilusi yang mulai menyelimuti pandangan mereka perlahan-lahan.

Narendra menyahut dengan cepat, nadanya penuh semangat dan keyakinan. "Kamu punya jimat teleportasi? Itu bagus. Kita berangkat sekarang. Kalau nanti kita dalam bahaya, kita bisa memanggil kepala suku."

Arkha mengangguk, wajahnya sedikit lebih cerah. "Ya, setidaknya dengan begini, Kepala Suku pasti senang mengetahui kalau kita berhasil menemukan suku Surya."

Namun Kael, yang sejak tadi diam, menyipitkan matanya. Tatapannya tertuju langsung pada Rira, penuh rasa curiga. "Tapi... bagaimana caranya kita mengaktifkan jimat itu? Setahuku, jimat teleportasi bukan benda sederhana. Butuh tenaga besar untuk mengaktifkannya, dan formasinya harus benar-benar tepat."

Rira tersenyum tenang, anggukan kecil menyertai jawabannya. "Sudah kupersiapkan. Aku membawa batu roh tingkat tinggi untuk mengaktifkannya. Itu sebabnya aku hanya bisa menggunakan jimat ini sekali. Setelah itu, sudah tidak bisa lagi."

Dari sudut pandang Kael, Arkha, dan Narendra, mereka melihat Rira membuat formasi di sekitarnya dengan menggunakan beberapa batu roh bercahaya biru terang dari kantung penyimpanannya. Batu-batu itu tampak berkilau, memancarkan energi yang kuat, membentuk formasi di sekitar kaki Rira. Cahaya mulai berkedip perlahan, menggambarkan pola rumit membentuk portal teleportasi.

Namun kenyataannya, Rira hanya mengeluarkan satu batu kristal kecil berwarna biru, dengan pola badai yang berputar perlahan di dalamnya. Dengan kristal itu, Rira membuat portal teleportasi yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.

Sementara ketiganya berdiri didepan portal formasi palsu, yakin akan keaslian apa yang mereka lihat, Rira berdiri di tengah mereka, menahan senyuman tipis yang sarat dengan kesombongan tersembunyi.

"Dasar bodoh, batinnya, sinis. Kalian bahkan tidak menyadari kalau sudah masuk ke dalam ilusiku."